Senin, 24 Juni 2013

Setelah Tiga Kali Panen

,
Dengan dilakukannya panen tanggal 20 Juni lalu, berarti budidaya jamur kuping di gudang telah tiga kali memberikan hasil. Total keseluruhan hasil panen pertama, panen kedua dan panen ketiga ternyata mencapai lebih dari 400 kg. Periode penanaman sejak baglog masuk kumbung hingga panen ketiga kurang lebih 2 bulan 20 hari. Agak telat karena panen pertama mundur satu minggu.

Dengan harga jual jamur kuping minimal 9000 per kilo, hasil kotor yang diperoleh lebih dari 3,6 juta rupiah. Ini sudah melebihi harga pembelian 2000 buah baglog tahap pertama yang hanya sebesar 3,3 juta (dicicil 2 kali).

Menurut informasi yang diterima, rata-rata jamur kuping bisa dipanen antara 6 - 7 kali. Dengan demikian masih ada harapan untuk memperoleh hasil panen yang lebih besar lagi, setidaknya dua kali lipat dari junlah total hasil panen sebelumnya. Menurut sebuah buku praktis tentang penanaman jamur kuping, perhitungan standar jumlah hasil panen jamur kuping selama satu masa penanaman dengan jumlah baglog sebanyak 2000 buah adalah sebesar 700 kg. Masih sesuai dengan hasil sementara ini.

Apalagi hari ini, yang berarti empat hari setelah panen, sudah terlihat tanda-tanda munculnya pinhead/tunas baru. Satu dua bahkan ada yang telah mekar. Entah kapan tunasnya muncul, tiba-tiba saja sudah terlihat agak besar, sekitar 5 centi. Belum banyak memang, tapi cukup melegakan. Alhamdulillah.      

Panen Jamur Kuping Tahap Ketiga

,
Alhamdulillah panen lagi.

Tepat setelah 24 hari sebelumnya panen, hari Kamis tanggal 20 Juni yang lalu kembali dilakukan pemanenan jamur kuping sebanyak 2000 baglog. Sebetulnya tidak tepat 2000, karena ada 13 yang berisi jamur tiram dan 4 yang beberapa hari sebelumnya terpaksa dibuang karena terkena krepes. Tapi untuk mempermudah, anggap saja tetap 2000 baglog..


Hasilnya cukup baik.

Kalau pada panen tahap pertama hasilnya sekitar 120an kg, panen kedua 157 kg, panen kali ini 135 kg. Meski mengalami penurunan, hasil ini cukup memuaskan mengingat proses pemanenan sedikit diubah. Tujuannya untuk menghasilkan jamur kuping panen dengan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Maksudnya begini.

Pada panen tahap kedua, hasil panen jamur kuping memang cukup tinggi. Namun ada keluhan dari pembeli tentang kualitas jamur yang agak basah. Ini akibat cuaca yang hampir setiap hari hujan, kelembaban udara tinggi, dan temperatur rendah. Proses pemanenan seperti pada panen pertama ternyata kurang sesuai untuk kondisi seperti ini. Hasil panen jamur agak basah dan kurang kesat. Di satu sisi ini menguntungkan untuk petani karena bobot hasil panen meningkat, tapi merugikan bagi pembeli apalagi pada saat harga relatif tinggi.

Bisnis yang baik tentunya harus menguntungkan kedua belah pihak.

Maka proses panen kali ini diubah.
 
Sebenarnya tidak banyak yang diubah, hanya  proses pra pemanenan saja. Kalau pada panen sebelumnya penghentian penyiraman hanya dilakukan selama satu hari atau 24 jam saja, maka kali ini diperpanjang menjadi 2 x 24 jam. Memang ada konsekuensinya, yaitu jamur akan cenderung lebih kering. Tapi tak apa demi kualitas yang lebih baik dan kepuasan pelanggan.

Hasilnya memang berbeda.

Jamur kuping hasil panen kali ini relatif lebih kesat, meski tetap saja ada beberapa yang bandel dan tak mau menghabiskan persediaan airnya. Konsekuensinya juga nampak, yaitu penurunan bobot total hasil panen. Kalau dilihat sekilas jumlahnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Tapi ketika ditimbang tenyata turun 20an kilo. Ya sudah tak apa. Alhamdulillah.

Sayangnya harga juga turun.

Panen sebelumnya sekilo jamur kuping panen dihargai 9.500, kali ini turun jadi 9000 saja. Katanya ini akibat hasil panen kemarin yang agak basah sehingga harga sekarang jadi turun.

Tapi sekali lagi, Alhamdulillah. ini pun sudah cukup baik untuk seorang pemula. Setidak-tidaknya masih relatif stabil di atas seratus kilo. Diharapkan hasil panen selanjutnya tetap sebaik ini sampai tahap panen terakhir.

Minggu, 16 Juni 2013

Sprayer Baru ...

,
Hari Senin kemarin terpaksa beli sprayer baru. Ini gara-gara sprayer lama yang berkapasitas 5 liter pecah/retak di tabung bagian atas.



Sebenarnya sudah agak lama pecah, mungkin sekitar 2 mingguan yang lalu. Bisa dipakai tapi tidak maksimal. Kalau saat normal, sekali dipompa sampai penuh bisa menyiram satu baris jamur. Setelah pecah, tiap maju satu langkah harus dipompa. Puegeelll...

Cari-cari ide akhirnya ditambal pakai lem terus ditimpa lilin mainan (?!). Maklum kalau bisa sedang berusaha berhemat semaksimal mungkin. Hasilnya lumayan, kebocoran bisa ditekan seminimal mungkin. Sprayer bisa dipakai lagi meski tetap tidak bisa sebaik ketika masih utuh. 

Sayangnya itu tidak berlangsung lama. Mungkin kekuatan lem dan lilin terus berkurang karena tiap hari terkena air. Hari Senin pagi kebocoran makin parah. Sudah hampir satu jam menyemprot jamur kuping di kumbung yang hanya terisi 2000 baglog tidak juga selesai. Akhirnya istri protes karena harus antar anak sekolah, belanja ke pasar, buka warung, dll. Parahnya lagi terus ngambek nggak mau jualan, warung tutup. 

Setelah dipikir-pikir, mau tak mau harus beli baru daripada tiap hari jadi masalah karena lambat menyemprot jamur. 

Coba-coba tanya mbah Gugel, ternyata ada banyak varian sprayer dari ukuran 2 liter (sudah punya) sampai 20an liter. Tinggal pilih. Kalau mau berhemat, beli yang 5 literan seperti yang lama. Harganya sekitar 90an ribu. Tapi melihat pengalaman sebelumnya, menyiram baglog sebanyak 2000 saja butuh waktu lama, hampir setengah jam. Kalau pertumbuhan jamur kuping sudah mendekati panen, kira-kira kurang satu minggu, volume air harus ditambah. Makin lama lagi.

Padahal sudah pesan tambahan 2000 baglog jamur kuping yang rencananya akan diantar akhir bulan Juni ini. Setelah itu juga akan ada tambahan sekitar 2000 lagi untuk memenuhi kapasitas gudang yang sudah jadi kumbung ini. Bisa berabe kalau cuma pakai sprayer 5 literan.

Ya sudah akhirnya diputuskan mau beli sprayer yang lebih besar, kapasitas sekitar 15an liter. Tapi harganya lumayan juga, sekitar 250rban. Demi kelancaran usaha, tak apalah berinvestasi sedikit. Yang penting jamur kuping tetap disiram sesuai jadwal, warung tetap buka, dan anak tidak terlambat sekolah. Everybody's happy. Yang nggak happy cuma dompetnya saja ...

Pergilah kami ke toko Tani Maju di daerah Jombor. Untung cukup lengkap. Tapi sprayer besar hanya ada dua jenis. Sama-sama kapasitas 14 liter, sama-sama merk Swan, hanya beda bahan. Sprayer stainless steel 400 ribu sedangkan yang plastik 250 ribu. Mengingat kapasitas dompet yang terbatas, akhirnya pilih yang berbahan plastik saja. 



      

Kamis, 06 Juni 2013

Mengapa Pilih Jamur Kuping

,
Saat ini berkebun jamur bisa menjadi salah satu pilihan usaha yang menguntungkan. Sudah banyak petani yang telah membuktikan. Penghasilan mereka meningkat dan memberi harapan kehidupan yang lebih baik.

Sebenarnya telah lama jamur dibudidayakan di Indonesia. Ada masa pasang-surut. Ada banyak yang berhasil, tak sedikit pula yang gulung tikar. Pilihan jenis jamur yang bisa dibudidayakan pun beragam, seperti jamur merang, jamur champignon, jamur tiram, jamur kuping, jamur lingzhi, dll.



Lalu mengapa sekarang pilih budidaya jamur kuping? Adakah hubungannya dengan tempatnya yang hanya di (bekas) gudang?

Sebenarnya tidak sama sekali.

Budidaya jamur di gudang sangat mungkin dilakukan untuk berbagai jenis jamur lainnya. Termasuk untuk budidaya jamur tiram yang sepertinya saat ini sangat populer (buktinya kalau kita tanya sama Google tentang budidaya jamur, maka sebagian besar hasil pencarian yang keluar tentang jamur tiram).

Saya memilih membudidayakan jamur kuping karena beberapa alasan pribadi:

  1. Merawat jamur kuping relatif mudah. Hanya butuh penyiraman dengan air biasa (tanpa pupuk/obat-obatan sama sekali) 2 - 4 kali sehari. Bahkan kalau umur baglog kurang dari satu minggu (atau sampai dengan seminggu setelah panen) dan cuaca tidak terlalu panas, sekali pengabutan sudah cukup. Hama dan penyakit tentu ada tapi sementara ini masih bisa ditangani.
  2. Harga jamur kuping menguntungkan dan cukup stabil. Menurut informasi, harga jual jamur kuping cenderung tinggi/naik menjelang dan selama bulan Ramadhan (seperti saat ini), lalu turun saat Hari Raya Kurban. Tapi secara umum harga rata-rata selama setahun masih memberikan hasil yang baik.  
  3. Panen jamur kuping bisa diatur waktunya. Inilah salah satu alasan pokok mengapa saya lebih suka memelihara jamur kuping. Umur panen ideal jamur kuping sekitar 24 hari setelah dilubangi atau setelah panen. Tapi mau dipanen lebih awal bisa, telat panen pun tak apa. Mau panen hanya di hari Minggu pun boleh. Tentu ada konsekuensinya masing-masing, namun secara teknis bisa dilakukan. Ada saudara yang sudah panen pada saat umur jamur kuping baru 14 hari, sedangkan panen pertama saya lakukan saat jamur berumur lebih dari 30 hari (karena belum tahu). Ini lain dengan, misalnya, jamur tiram. Jamur tiram bisa lebih cepat panen dan hasilnya juga menguntungkan, tapi rentang waktu panen untuk tiap jamur yang tumbuh hanya kira-kira seminggu setelah tunas muncul. Kalau terlambat dipanen, jamur akan layu dan sulit dijual. Dan, kalau memelihara dalam jumlah ribuan, maka hampir setiap hari akan ada jamur yang harus dipanen. Bayangkan jika panen raya terjadi pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha ketika jarang ada pedagang yang berjualan di pasar. Hal-hal seperti ini buat kami cukup menyulitkan saat ini. Tapi jika suatu saat nanti benar-benar akan fokus berkebun jamur, jamur tiram tetap menjadi salah satu pilihan menarik disamping membudidayakan jamur kuping.
  4. Umur simpan jamur kuping lebih lama dan bisa dikeringkan. Ini sebagai antisipasi misalnya kalau bila panen sudah dilakukan namun belum laku, maka jamur bisa disimpan lebih dulu atau malah dikeringkan sekalian. Harga jamur kuping kering juga cukup tinggi, sekitar Rp 50.000; bahkan bisa lebih.    
  5. Bisa dijadikan usaha sampingan. Kebetulan saat ini saya bersama istri masih mengelola warung makan kecil-kecilan. Sayang kalau harus ditinggal. Dengan berkebun jamur kuping ada potensi tambahan penghasilan yang cukup menjanjikan tanpa meninggalkan usaha itu. Sebagian pembudidaya jamur kuping di sekitar wilayah kami juga adalah pekerja kantoran. Hasil yang mereka peroleh cukup baik. Tentu saja ini tergantung ketekunan masing-masing. Selain itu, jumlah baglog yang dipelihara juga berpengaruh. Kalau hanya sekitar 1000-2000 baglog masih bisa jadi sambilan. Kalau lebih banyak sebaiknya dipelihara secara intensif. Penyiraman saja mungkin bisa dan mudah dilakukan secara sambilan tapi jika terkena hama/penyakit bisa tidak teramati dan akibatnya hasil berkurang bahkan gagal panen.  

Itulah beberapa alasan mengapa memilih membudidayakan jamur kuping. Mungkin bisa memberi tambahan informasi bagi yang sedang mencari peluang usaha baru terutama di bidang agrobisnis.

Rabu, 29 Mei 2013

Panen Jamur Kuping Tahap Kedua

,
Alhamdulillah panen tahap kedua jamur kuping telah dilakukan kemarin tanggal 27 Mei 2013. Kalau dihitung dari panen pertama, panen kali ini hanya berselang 23 hari saja. Ini kurang lebih sesuai dengan anjuran dari pengepul yang menyarankan panen dilakukan setelah 24 hari saja.



Panen pertama memang agak mundur beberapa hari. Kira-kira pelubangan dilakukan tanggal 1 April lalu panen tanggal 4 Mei. Berarti sekitar 30 hari lebih. Konsekuensinya ada beberapa jamur yang terlalu tua sehingga bobotnya lebih ringan.

Tetapi tak apa, namanya juga masih belajar. Ada kesalahan itu wajar.

Alhamdulillah hasil panen cukup baik. Bobot total 157 kg dari sekitar 1987 baglog. Jumlahnya ganjil karena dari pesanan 2000 baglog jamur kuping, ada 13 baglog yang ternyata panen jamur tiram :).

Harga juga alhamdulillah cukup baik. Kalau panen pertama dibeli Rp 9.000, kali ini harga naik jadi Rp 9.500. Lumayan ada kenaikan 500.

Sayang ada sedikit komplain karena jamur yang dipanen kali ini agak lembab. Sebenarnya ini bukan kesengajaan. Perlakuan yang diberikan sama seperti panen pertama. Artinya jamur disiram terakhir hari Sabtu jam 4 sore. Hari Minggu tidak disiram sama sekali. Hari Senin baru dipanen.

Masalahnya karena cuaca. Kalau panen pertama kebetulan pada seminggu sebelum panen sampai hari pemanenan cuaca cukup panas (bisa sampai 29 derajat) sedangkan kelembaban rendah (hampir menyentuh 70%-an. Sekarang yang semestinya sudah musim kemarau, di sini malah sering hujan. Bahkan sejak tiga hari sebelum panen sampai hari panen tetap hujan meskipun hanya gerimis. Suhu selalu kurang dari 27 derajat, kelembaban sekitar 90 %. Sebenarnya kondisi ini sangat baik kalau terjadi pada saat pertumbuhan. Tapi tidak baik jika terjadi saat panen karena ternyata mempengaruhi kualitas hasil panen. Jamur jadi lembab meski sudah dipetik dan dihamparkan di lantai.

Tapi tak apa. Sekali lagi ini pelajaran berharga.

Semoga panen yang akan datang bisa lebih baik dari segi kuantitas maupun kulitas.

Senin, 06 Mei 2013

Proses Panen Jamur Kuping

,
Dari pengalaman memanen jamur kuping untuk pertama kalinya kemarin, ada beberapa hal yang menarik untuk ditulis disini. Ini penting karena ternyata untuk mendapatkan hasil jamur dengan harga yang baik tidak bisa asal petik saja.  Ada kriteria tertentu yang diharapkan oleh pedagang apabila petani mau harga jual yang lebih tinggi. Perlu diketahui bahwa penjualan jamur kuping di daerah kami umumnya lewat pedagang/ pengepul bukan langsung ke konsumen.

Sebagai gambaran, jika jamur kuping dipanen pada saat kandungan airnya sangat tinggi, maka harganya akan jatuh hingga hampir setengahnya.

Kriteria hasil panen yang dianggap baik (setidaknya dari pengalaman kemarin) adalah  kadar air sedang,   tidak sampai kaku/kering sama sekali tapi kalau dipegang tidak terasa basah dan masih kenyal.
 
Untuk mendapatkan hasil panen seperti ini, ada beberapa proses yang harus dilalui. Hal ini berbeda misalnya dari panen jamur lain seperti jamur tiram yang tinggal petik, kemas, langsung bisa dijual. Jamur kuping harus dikondisikan dengan cara tertentu agar sesuai keinginan pasar.

Proses ini bisa dibagi menjadi tiga bagian yaitu sebelum panen, saat panen, dan setelah panen.

Tahap Sebelum Panen :
Tahap pertama dimulai sekitar dua hari sebelum panen. Pedagang harus dihubungi lebih dulu untuk memastikan kapan perkiraan tanggal panen. Setelah sepakat, dua hari sebelumnya pedagang akan datang untuk melihat apakah jamur kuping memang telah benar-benar siap dipetik. Sebagian pedagang bahkan bersedia memberi saran apabila tanaman jamur atau kondisi kumbung nampak bermasalah. Apabila telah mencapai umur panen, jamur dibiarkan dua hari tanpa disiram. Wah, jadi kering dong? Memang itu tujuan utamanya. Tapi karena kemarin saat satu hari sebelum panen, suhu sempat mencapai lebih dari 29 derajat dan kelembaban kurang dari 80% karena saat ini musim pancaroba, terpaksa sebagian lantai disiram dan baglog paling atas juga sedikit disiram. Setelah itu tidak ada penyiraman sama sekali sampai dipetik.
Jamur kuping siap panen
Selain tidak disiram, baglog jamur kuping harus dilubangi lagi di bagian belakang untuk memberi jalan bagi pertumbuhan pinhead (tunas jamur) tahap kedua. Jumlahnya juga tiga sebagaimana saat melubangi bagian depan.
Tiga lubang di bagian belakang baglog

Tahap Pemetikan
Jamur kuping yang telah dikondisikan agar kadar airnya menyusut dapat segera dipanen. Pemanenan sebaiknya dilakukan pagi hari saat bobotnya masih optimal. Pada panen perdana ini disarankan untuk langsung memetik keseluruhan badan jamur kuping hingga akarnya. Akar tidak perlu dibersihkan atau dipotong.  
Jamur yang telah dipetik dihamparkan di lantai beralas plastik atau koran sambil menunggu pengepul yang akan memasukkan ke dalam karung sekaligus menimbangnya sendiri. Ini berlaku terutama bagi yang masih pemula karena mungkin belum terlalu dikenal oleh pedagang. Bisa langsung dimasukkan karung asal sudah ada kesepakatan sebelumnya antara pedagang dengan pembeli. Tujuannya untuk menghindari kekecewaan diantara kedua belah pihak seandainya isi karung tidak sesuai sekaligus menjaga kepercayaan antara keduanya.
Hasil panen jamur kuping 
Perlu dicek jamur di baglog terbawah karena kadang masih basah. Tandanya jika dipegang terasa ada air atau bahkan memang masih nampak jelas ada air di lembaran jamur. Jika demikian ada baiknya jamur diangin-anginkan atau bahkan dijemur sebentar untuk menghilangkan air itu, agar tidak menjatuhkan kualitas dan harga jamur kuping secara keseluruhan. Jamur yang busuk sebaiknya dipisahkan kalau ada.
Jamur kuping dijemur
Seandainya ada jamur kuping yang tidak tumbuh sempurna/kerdil bisa ditinggal supaya tumbuh besar atau boleh juga ikut dipanen.
Jamur kuping kerdil

Tahap Setelah Panen
Setelah jamur kuping selesai dipetik dan dibawa oleh pedagang, kumbung jamur harus segera disapu. Semua kotoran sisa panen harus dihilangkan untuk menghindari tumbuhnya jamur kontaminan. Kemudian segera lakukan pengabutan dan penyiraman pada jamur yang masih ditinggal seandainya ada, dilanjutkan perawatan kumbung jamur sebagaimana biasa.
Baglog jamur kuping setelah dipanen 


Sabtu, 04 Mei 2013

Panen Jamur Kuping Tahap Pertama

,
Alhamdulillah setelah menunggu sekitar satu bulan, hari ini panen jamur kuping di gudang akhirnya dilakukan. Hasilnya cukup lumayan. Baglog sebanyak 2000 buah menghasilkan 111 kg jamur siap jual.
Hasil Panen Jamur Kuping Tahap Pertama

Hasil Panen Dihamparkan Di Lantai Menunggu Pembeli
Saat ini harga jual jamur kuping di tingkat petani Rp 9.000, sehingga pemasukan awal sebesar Rp. 999.000. 

Sebuah kombinasi angka yang unik, antara angka 111 dan 999 (ribu). Semoga menjadi awal yang baik untuk keberhasilan penanaman jamur kuping berikutnya.
 

Jamur Segudang Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates